Showing posts with label artikel kesehatan anak. Show all posts
Showing posts with label artikel kesehatan anak. Show all posts

Wednesday, January 14, 2015

Kesalahan Utama Saat Mengajarkan Toilet Training

 
doc : parenting.com
Ketika anak memasuki usia dua tahun, orangtua mulai mengajarkan mereka untuk buang air kecil atau besar di toilet. Saat proses belajar ini berlangsung, jangan sampai Anda melakukan kesalahan-kesalahan berikut yang justru bisa membuat anak semakin malas untuk toilet training.

Toilet training, begitu istilah populer untuk melatih si kecil buang air kecil atau besar di kamar mandi. Beberapa anak menunjukkan keinginannya untuk belajar BAB dan BAK di kamar mandi saat usia dua tahun. Ada juga anak yang belum mau melakukannya meski usia mereka sudah 2,5 tahun atau lebih.

Kapan waktu yang tepat untuk mengajari anak toilet training? Sebenarnya orangtua tidak perlu buru-buru melakukannya, kalau anak memang terlihat belum siap. Wolipop pernah menuliskan di sini, hal-hal apa saja yang perlu diketahui orangtua untuk melihat kesiapan anak.

Jika dari pengamatan Anda anak sudah siap melakukan toilet training, hindari beberapa kesalahan yang umum dilakukan orangtua berikut ini, seperti dipaparkan Baby Center:

1. Terlalu Dini
Sebaiknya jangan mengajari si kecil melakukan toilet training jika memang dia belum siap. Kalau anak diajari terlalu dini, kemungkinan proses belajar itu akan selesai lebih lama. Seperti sudah dijelaskan di atas, tidak ada yang tahu di usia berapa tepatnya anak mulai diajari BAB dan BAK di toilet, semuanya tergantung dari perkembangan anak. Namun sebagian besar balita memiliki kemampuan untuk mempelajari hal tersebut di usia 18 dan 24 bulan. Ada juga beberapa balita yang belum siap sampai usianya tiga atau empat tahun. Jadi sebenarnya orangtualah yang tahu kapan waktu paling tepat mengajari anak toilet training dengan mengamati perkembangan fisik, kognitif dan perilakunya.

Ketika proses belajar toilet training ini sudah dimulai biasanya butuh waktu tiga bulan atau lebih lama. Oleh karena itu Anda harus banyak bersabar dan tetap mendukung anak melaluinya. Kalau ternyata proses belajar ini tidak sukses setelah beberapa minggu dijalankan, bisa jadi anak memang belum siap. Tunggu beberapa minggu dan coba lagi dari awal.

2. Memulai di Waktu yang Salah
Bukan ide yang baik jika Anda mulai mengajari anak untuk toilet training ketika ternyata dia akan memiliki adik dalam waktu dekat. Waktu lainnya yang tidak tepat misalnya ketika anak berganti pengasuh atau masa-masa peralihan lain dalam hidupnyaYang Mommies harus selalu ingat, balita sangat perlu rutinitas agar dia bisa memahami apa yang sedang diajarkan padanya. Sehingga perubahan apapun yang tidak sejalan dengan kesehariannya atau rutinitasnya itu bisa jadi kemunduran untuknya. Jadi sebaiknya tunggu hingga situasi memungkinkan, misalnya ketika si bungsu sudah lahir atau baby sitter baru sudah datang, baru mulai mengajarinya toilet training.

3. Membuatnya Menjadi Beban
Ketika anak sudah menunjukkan ketertarikannya untuk buang air kecil atau besar di kamar mandi, itu tentu sangat baik. Namun sebaiknya Anda jangan terlalu mendorong atau menekannya untuk terus melakukan langkah tersebut. Hindari juga memaksa anak untuk belajar dengan cepat. Kalau anak tertekan, dia bisa jadi sulit BAB atau mengalami masalah lainnya.

Berikan anak waktu dan biarkan dia menjalani proses belajar tersebut sesuai kemampuannya. Anak akan belajar setahap demi setahap, misalnya awalnya dia sudah mau menunjukkan ekspresi berbeda ketika ingin BAB atau BAK, tahap berikutnya, anak mengungkapkan keinginannya, tahap lanjutan si kecil mengajak Anda ke kamar mandi, dan seterusnya.

4. Mengikuti Aturan Orang Lain
Melatih anak untuk BAB atau BAK di toilet butuh kesabaran dan waktu. Setiap minggunya juga bisa semakin sulit apalagi jika Anda mendengarkan omongan orang lain seperti ibu Anda, mertua, atau orang lain yang lebih senior dan merasa lebih tahu. Ketika mereka menasihati Anda agar mempercepat proses belajar toilet training atau memberitahukan agar anak segera diajari BAB atau BAK di kamar mandi, sebaiknya jangan terpengaruh. Seperti sudah dikatakan sebelumnya, jika ternyata anak belum siap, proses toilet training ini malah bisa berlangsung lebih lama.

5. Menghukum Anak
Menghukum atau marah pada anak ketika dia tidak benar-benar mau toilet training justru tak akan menyelesaikan masalah dan bisa membuatnya belajar. Pahamilah kalau penolakan anak ini wajar dan jika Anda memberi hukuman hanya akan membuatnya semakin malas belajar BAB atau BAK di toilet. Anak malah akan takut jika dia berbuat kesalahan itu akan membuat Anda marah. Berikan respon dengan bijak dan tenang ketika anak misalnya lupa ke kamar mandi untuk BAK.

Tips Toilet Training

 
sumber: kompas.com
 
Jika si kecil sudah menunjukkan tanda-tanda kesiapan toilet training, jangan ragu untuk memulainya. Beberapa tips berikut ini dapat Mommies lakukan untuk memulai mengajarinya toilet training.

  • Membuat jadwal
Karena baru memulainya, Anda dapat membuat jadwal toilet training untuk si Kecil. Perhatikan kapan waktu anak buang air kecil dan buang air besar, kemudian catat dalam jadwal yang Anda buat. Namun, Anda tetap harus bersabar jika suatu ketika waktu BAK dan BAB anak berubah-ubah dan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.

  • Memberitahu seluruh anggota keluarga
Ketika Ibu mulai mengenalkan toilet training pada si Kecil, beritahukan kepada seluruh anggota keluarga. Hal ini supaya mereka memahami dan mendukung Anda menerapkan toilet training yang konsisten untuk si Kecil. Jika tidak diberitahu, Ayah bisa saja membiarkan si Kecil yang bilang ‘pup’ lantaran biasanya BAB di popok sekali pakainya dan tidak segera membawanya ke toilet. Hal ini bisa membuat toilet training si Kecil tidak berjalan sesuai dengan rencana Anda.

  • Biarkan ia melihat orangtuanya menggunakan toilet
Si Kecil adalah peniru ulung. Untuk memberitahu sesuatu, lebih mudah dilakukan dengan contoh. Tak perlu malu, Anda dapat melatihnya toilet training dengan mencontohkan diri Anda sendiri. Biarkan anak melihat Anda duduk di toilet. Anda juga dapat melibatkan Ayah untuk mencontohkan anak laki-laki menggunakan toilet.

  • Siapkan pispot khusus untuk anak dan bantu anak menggunakannya
Anda dapat membelikan pispot khusus anak untuk mengajarinya toilet training. Ajak anak duduk di pispotnya, kemudian beritahu cara menggunakannya. Pispot yang berbentuk lucu dengan gambar boneka atau kartun pasti membuat si Kecil suka memakainya.

  • Tidak menggunakan popok sekali pakai saat di rumah
Saat mengajari si Kecil toilet training, coba hindarkan anak dari penggunaan popok sekali pakai, terutama saat di rumah. Tanpa menggunakan popok sekali pakai, saat buang air kecil anak akan merasakan celananya basah dan tidak nyaman. Begitupun saat buang air besar. Ketidaknyamanan yang dirasakannya akan membuatnya bilang kepada Anda dan buang air di toilet. Memang, Anda akan lebih repot dengan cucian si Kecil yang menumpuk terkena ompol dan feses karena terkadang belum sampai toilet anak sudah BAK dan BAB terlebih dulu. Namun, Anda harus melewatinya supaya si Kecil bisa buang air di toilet dan sedikit demi sedikit meninggalkan popok sekali pakai yang biasa dipakainya. Pakaikan celana dalam pada si Kecil dan katakan kepadanya untuk buang air di toilet.

  • Memberi pujian jika anak berhasil melakukannya
Jangan lupa memberi pujian kepada si Kecil jika sudah bisa buang air di toilet. Pujian Anda akan membuatnya senang dan memotivasinya untuk melakukan hal yang sama di lain waktu. Anda bisa memuji si Kecil dengan mengatakan, “Adek sudah pintar pipis di toilet, Mama bangga deh.” Puji si Kecil setiap kali usai buang air di toilet.

Sumber : ibudanmama.com

Kapan ya, Memulai Toilet Traning?

sumber: babybulletblog.com


"Kapan ya, memulai toilet training?"

Mungkin ini pertanyaan yang sering Mommies ucapkan ketika si kecil hampir memasuki usia 2 tahun. Sebenarnya tidak ada waktu yang pasti seorang anak bisa mulai dilatih toilet training. Yang menjadi kunci utamanya adalah mengenai kesiapan anak. Pada umumnya, seorang anak mulai dikenalkan dengan toilet training ketika usianya 18-24 bulan. Namun, pada beberapa anak ada yang baru mau dikenalkan saat usianya 3 tahun. Kita sebagai orang terdekat si Kecil harus tahu kapan saat si Kecil sudah menunjukkan tanda-tanda siap toilet training. Berikut tanda-tandanya :



1. Tanda fisik

- Anak mampu berjalan, bahkan berlari, dengan stabil.
- Berkemih cukup banyak dalam satu waktu.
- Waktu berkemihnya rutin dan bisa diprediksi.
- Tidak berkemih saat tidur kurang dari dua jam. Hal ini berarti otot kandung kemihnya sudah dapat menahan kemih.

2. Tanda sikap
- Dapat duduk tenang di satu posisi dalam waktu dua hingga lima menit.
- Dapat menarik bokongnya ke atas dan ke bawah.
- Tidak betah memakai popok.
- Tertarik dengan kegiatan di kamar mandi seperti mengikuti Anda saat pergi ke kamar mandi.
- Menunjukkan tanda-tanda spesifik ketika ingin berkemih, bahkan memberitahukan Anda.
- Tidak jijik pada toilet.
- Menunjukkan tanda-tanda ingin mandiri.

3. Tanda kognitif
- Mengerti tanda-tanda dia harus pergi ke toilet dan mengatakan pada Anda sebelum ia berkemih.
- Bisa mengikuti perintah sederhana, seperti, "tolong ambilkan benda itu".
- Mengerti nilai menaruh sesuatu pada tempatnya.
- Sudah memiliki atau menggunakan istilah untuk "berkemih" dan "buang air besar"


Meskipun Mommies sudah menerapkan toilet training pada anak secara konsisten, mungkin ia akan mengalami kebobolan, terutama di malam hari. Namun, jangan memarahi anak atau menghukumnya. Bagaimanapun toilet training merupakan proses dan membutuhkan waktu yang tidak singkat untuk membuat si Kecil benar-benar terbiasa buang air di toilet.

Sumber : Babycenter.com (edited by bayi365.com)


BACA JUGA : Tips Memulai Toilet Training 

***Jual Pee Trainer For Boys harga murah*** [lilchelstuff - stuff for your little ones]